Sabtu, 21 Juni 2014

PAMERAN SAAT PERPISAHAN



Ada yang menarik dan berbeda dari perpisahan SMPN 1 Cipanas 21 Junia 2014  kali kini. Bukan dari acara seni yang mereka tampilkan atau susunan acaranya, namun ada sebuah pemandangan lain yang tak biasa. Di samping arena perpisahan, di sebuah aula Olah Raga telah disulap menjadi sebuah PAMERAN sederhana oleh panitia dengan bekerja sama dengan guru mata pelajaran Seni dan Budaya tentunya
.
PAMERAN dari karya karya mereka yang akan meninggalkan sekolah. Ketika memasuki ruang pameran terlihat ada bebarapa hasil karya seni rupa baik dua dimensi karya bidang datar, maupun tiga dimensi berupa kerajinan. Dari dua dimensi ada foto foto ekspresi mereka, dan lukisan Nirmana. Sedangkna dari tiga dimensi ada hasil karya dari bahan fanel berbentuk tempat tisu, sandal, pigura, dan lainnnya.

PAMERAN mereka memang tidak bisa disejajarkan dengan pameran profesional. Namun ini sebuah langkah yang patut diberi sebuah apresiasi. PENGHARGAAN KEPADA HASIL MEREKA. Dan secara langsung memberikan laporan kepada orang tua oleh pihak sekolah.
Inilah beberapa buah karya mereka tersebut  






Siswa membawa orang tuanya melihat lihat pameran

Siswa melihat mungklin juga mencari adakah hasil karyanya

















Kamis, 12 Juni 2014

GURU JADILAH PENULIS MABRUR

" Guru jadilah penulis MABRUR " itulah pesan yang berkali kali disebut oleh.Dr H Wakhudin  Dosen /Humas UPI kepada kurang lebih dua ratus guru peserta  pelatihan Jurnalistik tingkat propinsi  di Pesona Bandung Lembang 20-22 Mei 2014. Hal ini disampaikan karena keprihatinannya terhadap fenomena yang terjadi sejalan dengan  arus informasi di  media masa, media sosial demikian derasnya namun beritanya banyak yang berdampak negatif., banyak berita yang menjadi Good news adalah berita yang kurang mendidik, yang penting berita itu menghasilkan uang. Standar berita yang baik menjadi terbalik, bad News terkadang menjadi good news. lebih jauh beliau memberikan contoh beberapa kali dalam satu hari berita salah satu selebritis muncul. seperti layaknya sang pahlawan,


menyikapi hal demikian sudah saatnya guru dan siswa berubah peran, bukan lagi menjadi KONSUMSI BERITA, TETAPI MENJADI SUMBER BERITA. caranya adalah dengan MENULIS. Menulis yang tentunya penuh inspiratif, penuh  ajakan tentunya tampa menggurui  kepada hal yang baik. sehingga dengan tulisan tersebut setidaknya menjadi penyeimbang terhadap berita berita yang kurang mendidik, (bad news). 

Sarana tentunya banyak pilihan, bisa melalui sebuah blog, facebook, twitter, media masa, atau media sekolah  yang kita kenal MAJALAH DINDING . Guru jangan malu dan ragu untuk juga berpartisipasi  menulis di media tersebut. Dengan harapan juga menjadi contoh pada siswa.Dengan demikian diharapkan muncul  sikap sikap yang sebagaimana kita kehendaki. Hal ini karena dengan kegiatan jurnalistik akan menjadi media pembentukan karakter seperti ketekunan, kreativitas, kejujuran, disiplin, dan kegigighan.

Sekarang masalahnya, kembali ke pada guru itu sendiri, siapkah guru meluangkan waktunya untuk menulis ? sedangkan kesibukan mereka menyita waktu?. kiat dari Wijaya Kusuma atau yang akrab dengan sebutan Omj Jay ada baiknya  kita praktekan "Menulislah sebelum tidur " selain berberdoa tentunya. .




Jumat, 06 Juni 2014

Sebuah Contoh Telah Mereka Perlihatkan

Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis tentang mereka di blog ini. tentang bagaimana saya begitu berterima kasih, tenntang kebanggaan saya, dan tentang kekaguman saya pada mereka. Betapa tidak, mereka telah menunjukan  sesuatu yang  patut dibanggakan, patut dihargai, dan patut diberi apresiasi dengan apa yang telah mereka berikan pada saya khusunya , dan sekolah pada umumnya  di mana mereka menimba ilmu.

Tanggal 19 Mei sampai tanggal 21 Mei 2014, sekolah menugaskan saya untuk mengikuti pelatihan Jurnalistik bertempat di Pesona Bambu Lembang Bandung. itu artnya selama kurang lebih empat hari   saya tidak bisas mengajar. walaupun KD yang ada di Program Semester sudah hampir selesai. Namun dengan tidak hadirnya saya berarti ada kekosongan di kelas, walaupun itu bisa di gantikan kehadiran saya dengan pemberian tugas.

Saya jadi ingat apa yang telah  dilaksankan oleh rekan sesama pengajar IPS yaitu bu Ita Suwarmita. Dia mengajar kelas sembilan empat   kelas dan kelas delapan dua kelas. salah satu kelas sembilan yang dia ajar merupakan kelas program. (Kelas yang terdiri dari siswa yang memiliki kemampuan  diatas rata-rata) atau kelas unggulan. Ketika ujian Nasional selesai otomatis kelas sembilan sudah tidak belajar lagi. akhirnya mereka tidak disibuki lagi dengan pembelajaran di kellas. namun mereka masih datang ke sekolah. melihat keadaan tersebut bu Ita mencoba beberapa siswa yang memiliki kemampuan lebih ( salah satunya juara OSN IPS tingkat  Nasionak ke tiga ) diundang suatu hari kekelas delapan yang dia ajar untuk menerangkan di depan adik adik kelasnya, yang tentnya dengan pantauan beliau. Hasilnya ? sangat menggembirakan.

Terinspirasi olehnya, sebelum saya berangkat mengikuti pelatihan,  saya meminta beliau untk menghubungi siswa kelas sembilan tersebut   untuk mengisi jam pelajaran IPS saya. Saya berikan jadwal saya dan materi apa yang harus mereka terangkan kepada adik adiknya. Hasilnya ? 

saat saya kembali kesekolah, beberapa siswa kelas delapan melapor kepada saya
" Bu ketika kakak kelas menerangkan teman teman diam semua mendengarkan " Ujar Oka KM kelas 8 E saat saya mau masuk kekelasnya.  dari nadanya tersirat sebuah kekaguman. .
" Seru bu saat kakak kelas membuat Game, kita jadi semangat" Faja  kelas 8 F melaporkan saat saya tanyakan kesan mereka ketika kakak kelasnya masuk.sementara  tangan dikepalkan. 
Alhamdulillah. Saya tidak ada di kelas, mereka tetap belajar dengan baik. Ada kekaguman dan kebangggaan muncul. kekaguman dan kebanggaan pada mereka kelas sembilan yang sudah begitu antusias menjalankan amanah, mengisi selama tiga hari saat saya mengikuti pelatihan. jurnalistik. Mereka mengisi waktu dengan baik saat  menanti pelulusan. Saya yakin bukan hanya saya yang banggga, merekapun banggga di percaya untuk masuk kelas. adik adiknya. kebutuhan aktualisasi diri telah terpuaskan. Dan bagi adik adiknya saya berharap  akan memberikan sebuah contoh yang baik, dan sekaligus  memotivasi belajar mereka. 

"Untuk Bintang Aulia Yasmin dan Dimas yang telah masuk ke kelas C, Fani Kurniawati dan Rahayu  yang telah masuk kelas F, Fanny Puteri dan Santi Nuraeni  yang telah masuk kelas E, Aslama yang telah masuk ke kelas 8 B, Yusra, Shifa, dan Widya Trie, yang telah masuk kekelas 8A,  ibu ucapkan terima kasih, kalian telah membuat ibu bangga,  tentunya juga bu Ita wali kelas kalian. Semoga saja dengan masuknya kalian kekelas menjadi contoh adik adik kelas kalian. bagaimana mereka harus bersikap pada adik kelasnya. agar muncul sebuh kekaguman dan rasa hormat pada kakak kelasnya".









Selasa, 13 Mei 2014

PENGEMBANGAN DIRI, UNTUK KARIR ? ATAU PELAYANAN KEPADA SISWA ?






" Guru Profesional adalah sebuah keharusan, bukan sebuah pilihan". Itulah kalimat yang sering dikumandangkan oleh Widyaswara dari LMPM ketika mereka memberikan materi saat Program Akselarasi Mutu Sekolah (PAMS) di sekolah di mana penulis  mengajar. . Inti kalimat itu mengandung arti bahwa guru harus selalu mengembangkan diri dengan selalu belajar agar menjadi guru profesioanal. 

Inti kalimat itupun saya baca kembali di sebuah media sosial yang ditulis oleh Wijaya Kusuma yang akrab dipanggil dengan Om Jay. Memang Om Jay tidak persis kalimatnya, namun hakekatnya sama,  bahwa seorang guru harus selalu belajar dan belajar.  " Ketika guru sudah tidak mau belajar lagi, maka dia akan tertinggal dan terlindas zaman. Dia akan berhadapan dengan peserta didik yang jauh lebih pandai dari dirinya. Belajar sepanjang hayat adalah kunci agar guru tetap menjadi mata air bagi peserta didiknya ''. Demikian salah satu baris kalimatnya. yang saya tangkap intinya adalah sama,  bahwa guru harus profesioanal, dan itu merupakan sebuah keharusan. 

Sekali lagi guru Profesional adalah sebuah keharusan dan itu akan terwujud manakala guru selalu dan selalu mengembangkan diri. karena jaman tidak berjalam statis, namun berubah dan perumabahn itu demikian cepat dari menit kemenit

yang menjadi permasalahannnya adalah seberapa besarkah mamfaat pengembangan diri itu berdampak bagi siswa? yang kalau kata Om jay menjadi mata air bagi siswanya? Jawabannnya jelas besar sekali. hanya saja yang perlu diperhatikan siswa bukan hanya saja membutukan pengembangan IQ saja, namun SQ dan EQ 

 dengan demikian dalam pengembangan diri dan  kreatifitasnya jangan lupa akan jiwa pendidikan itu sendiri, Ing Harso Sung Toludo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. jangan sampai   guru yang giat untuk pengembangan diri hingga lupa tugas mendidiknya. karena bukan hanya sebatas mengajar tetapi ada tugas yang paling utama pepbentukan karakter karena yang dibutuhkan bukan hanya  guru pintar dan cerdas tapi guru yang mampu membuat siswa cerdas.

seorang sahabat yang juga pendidk pernah mengatakan kepada saya, " Yang sulit dalam mengajar adalah bagaimana memotivasi belajar siswa, karena anak sekarang motivasi belajarnya kurang, kalau guru sudah mampu membangkitkan semangat belajar mereka itu bagus sekali" dan itu tidaklah mudah. diperlukan sebuah kemampuan khusus dan dedikasi yang tinggi dari seorang pendidik tentunya. Semoga saja ketika  guru selalu belajar dan mengembangkan kreatifitasnya  bertujuan tidak lain adalah untuk siswa itu sendiri, bukan hal lain, kalau karir menjadi naik itu dampak lanjutannnya, namun bukan  sebuah tujuan utama.  








Minggu, 04 Mei 2014

MEREKA DAN LAGU INDONESIA RAYA




Benarkah ada siswa yang tidak hapal lagu Indonesia Raya ? dan apakah fenomena itu juga menghinggapi anak didik saya ? itulah pertanyaan yang mengelitik sekaligus malu dan penasaran. Sebagai seorang guru pertanyaan itu muncul saat  menyaksikan acara Indonesia Lawyers Club yang di pandu Karni Ilyas., Saat acara itu membahas tentang kekerasan di JIS yang kemudian melebar kepada   karakter kebangsaan  pelajar Indonesia pada umumnya.

Pendapat tersebut keluar dari seorang  wanita anggota DPR,Terlepas dari benar atau tidaknya pendapat tersebut namun,  sebagai seorang guru  Pendapat tersebut  membuat saya tersadar  bahwa selama ini saya kurang memperhatikan hal itu.kuraang memperhatikan apakah mereka hapal atau tidak lagu kebangsaannya sendiri. Sederhana namun untuk pembentukan karakter suatu bangsa itu sangat penting.

Walaupun bukan berarti pembentukan karakter dalam pelajaran IPS yang saya ampu tidak menjadi perhatian. Tetap pembentukan karakter saya utamakan, namun jujur saja saya belum pernah mencek anak didik satu persatu apakah mereka hapal lagu tersebut atau tidak. Pernah memang mereka  menyanyikan lagu tersebut, namun itu dilakukan secara klasikal saat saya membahas tentang perjalanan bangsa ini dalam menemukan Identitasnya melalui SUMPAH PEMUDA. Dan untuk  mereka menyanyikan sendiri jujur saja  saya belum pernah. Dan melalui acara Indonesia Lawyers Club secara tidak langsung saya  dingatkan akan hal itu bahwa pembentukan karekater kebangsaan melalui hapal lag Indonesia Raya  tugas semua semua guru bukan hanya guru SBK saja. , dan itu  memunculkan sebuah rencana, esok saya akan selipkan pada proses pembelajaran

Esok harinya saya masuki jadwal pertama di  kelas 8B. Sebenarnya dalam program hari itu akan mengadakan remedial. Namun karena rasa penasaran untuk mengetahui apakah mereka hapal atau tidak lagu Indonesia Raya maka, rencana itu saya batalkan.dan gantinya saya menugaskan mereka menulis judul  lagu lagu wajib nasional yang mereka hapal dengan lagu Kebangsaan Indonesia Raya tentunya.  Dan saya tekankan pada mereka apa yang mereka tulis harus yang mereka hapal karena nantinya akan ditugaskan untuk menyanyikan dua lagu, satu Indonesia Raya dan  satunya  lagu wajib nasional yang mereka tulis tentunya bukan mereka yang pilih tetapi saya. 

Masalah muncul dengan durasi 2kali 40 menit ternyata tidak mungkin selesai, maka saya tugaskan mereka berdua berdua untuk menyanyikannnya, dengan tehnik satu baris satu baris bergantian. Dan Hasilnya Alhamdulilillah ternyata apa yang mereka katakana di awal pelajaran bahwa mereka hapal terbukti.( sebelum mulai saya ceritakan pada mereka seperti cerita saya diatas)  dan itu membuat saya lega, walaupun ada satu orang yang salah itupun hanya satu atau dua baris saja


Indonesia Pusaka, dan Tanah Airku menggeliti saya untuk ikut bernyanyi
.
Ada kelegaan bahwa mereka hapal, dan ternyata merekapun mampu membuat saya ikut bernyanyi apalagi saat mereka menyanyikan Indonesia Pusaka dan Tanah Airku.  Mereka yang memiliki suara bagus saya tugaskan kembali bernyanyi dan dengan tidak malu saya turut menyanyikannnya bersama mereka.

Jumat, 02 Mei 2014

MAWAR MERAH, HARI PENDIDIKAN DAN PASSUS SMPN I CIPANAS




Sekelompok siswa berpakaian batik satu persatu masuk ruang guru. Di tangan mereka ada setangkai mawar merah yang dibungkus plastik dengan rapihnya.  Satu siswa mendatangani  satu guru yang ada 

‘” Selamat hari pendidikan nasional bu “ Ujar mereka setiap mereka memberikan bunga ke guru yang yang ada. Tidak terkecuali saya yang saat itu juga berada di sana.
“ Oh terima kasih ya “ .Ujar saya sambil menerima bunga dari salah seorang siswa di antara mereka. 
Dokumentasi : Zenal ArifinAl Mukti
Bunga itu ternyata mereka hiasi juga dengan sebuah foto yang tidak asing di dunia pendidikan. Seorang tokoh yang menanamkan akar dan fondasi pendidikan Indonesia. “ING HARSO SUNG TULODO, ING MADYA MANGUN KARSO, TUT WURI HANDAYANI”. Bapak KIHAJAR DEWANTARA. Bapak pendidikan Nasional yang juga seorang tokoh pergerakan Kebangsaan Indonesia 

 Bersama dengan dr Tjipto Mangunkusu, dan Dr E.F.F Douwes Dekker beliau mendirikan sebuah pergerakan kebangsaan Indische partij yang bertujuan membangun patriotisme semua “Indiers” terhadap tanah airnya. Sebuah pembentukan Karekter Bangsa

Dokumentasi : Zenal Arifin Al Mukti  
.
Dokumentasi : Zenal Arifin Al Mukti
 
Dokumentasi : Zenal Aripin Al Mukti 

Saya amati kembali mawar merah ungkapan dan kepedulian mereka terhadap dunia pendidikan  (Guru) dan sebuah tulisan di atas foto Kihajar Dewantara dengan logo PASSUS SMPN 1 CIPANAS di samping tulisannnya  terbaca dengan jelas
PASSUS SMPN 1 CIPANAS
Mengucapkan Hari Pendidikan Nasional
Untuk Seluruh Insan Pendidikan SMPN I CIpanas
Di bawah foto Kihajar Dewantara tertulis lagi
“ Lawan Sastra Ngesti Mulya “
(DENGAN ILMU KITA MENUJU KEMULYAAN

Oh mereka ternyata dari kelompok Eskul  PASSUS. Salah satu ekstra Kulikuler yang ada di SMPN 1 Cipanas di mana saya mengajar. Sebuah kegiatan di luar jam dengan pembimbingnya ZENAL ARIPIN AL MUKTI  yang membina mereka dalam hal  PERATURAN BARIS BERBARIS ANGKATAN BERSENJATA di mana di dalamnya meliputi juga pelatihan tata cara upacara, keorganisasian , kepekaan akan lingkungan dan social. Dan apresiasi mereka terhadap HARI PENDIDIKAN NASIONAL hari ini  dengan memberikan setangkai bunga kepada guru-gurunya pastilah salah satu Implementasi  daari nilai nilai yang terkandung di dalamnya pembinaan tersebut.

berfoto bersama dengan setangkai mawar merah

Guru BP pun tak luput dari ucapan hari pendidikan  dan setangkai mawar merah


“ ih haru ya bu, “ Ujar salah seorang rekan sambil mencium bunga tersebut.
“ iya “  ujar saya sambil kembali mengamati bunga dan saya simpan di tas saya yang kebetulan hari ini saya memakai tas yang lumayan bes ar. Tas yang menjadi saksi tentang sebuah bunga dari sebuah sikap sederhana namun berdampak besar terhadap PEMBENTUKAN KARAKTER.